Mari Bergerak dan Menggerakkan

Friday, 28 June 2013

WHEN THE CHILDREN SMILE

22:51 Posted by SSC_MKS No comments
Berapa banyak anak didunia ini yang memiliki mimpi?
Berapa banyak anak di negeri ini yang mengubur mimpinya?
Dan berapa banyak anak di negeri ini yang tidak lagi memiliki cita-cita?
            Dalam kehidupan mereka (kami menyebutnya sahabat jalanan) setiap hari hanya satu pikiran yang terlintas di benak mereka, “Hari ini harus bekerja. Kira-kira  berapa uang yang bisa saya kumpulkan untuk membantu ayah dan ibu saya?”. Selalu pekerjaan di benak mereka, mengumpulkan rupiah untuk terus menunjang kehidupan mereka.
            Rizal, satu dari mereka. Rizal anak berusia 9 tahun, setiap hari dia berjualan jalangkote di sekitar pantai losari Makassar. Ketika dia di tanya, “Kamu sekolah atau tidak?” dengan sungkan dia menggelengkan kepalanya. Terus menunduk seolah dia malu adalah ciri khas anak ini. Sembari menenteng kotak jualannya, dia terus menunduk diantara anak-anak yang lain. Saat yang lain dengan semangatnya berebutan, Rizal diam di tempatnya menunggu diberi susu.
            Anak berusia 9 tahun menghabiskan setiap harinya untuk jualan, menjajakan kuenya pada setiap orang yang lain tanpa  berfikir untuk kembali sekolah. Ayah dan ibunya berada jauh di Takalar. Kami tidak mempersalahkan ayah dan ibu Rizal, mungkin kondisi mereka disana sangat kurang sehingga mengirim anaknya untuk mencari nafkah disini.
            “Rizal mau belajar gak?” Kembali sebuah pertanyaan terlontar dari mulut para relawan Save Street Child Makassar. Dan kembali pula sebuah gelengan kepala diperlihatkan Rizal pertanda dia tidak ingin atau mungkin tidak bisa.

Friday, 21 June 2013

Kelas sayan

09:35 Posted by SSC_MKS No comments
Jika lelah menghampiri kalian, beristirahatlah....
Jika rasa kesal ikut berkunjung, duduklah...
Jika kalian berfikir dunia tidak begitu adil, bercerminlah...
Jika kalian bosan dengan kehidupan kalian, mampirlah di Kelas Sayan...

            Tahukah satu hal yang tidak pernah bosan untuk dilakukan? Belajar? Bisa saja. Tapi kadang belajar juga bisa membuat seseorang bosan. Lalu, menurut kalian apa? Jika pertanyaan itu di tanyakan, jawaban yang memungkinkan adalah “MENGAJAR”, kenapa mengajar? Bukankah ke mall, jalan-jalan, atau berbelanja menjadi hal-hal yang paling tidak pernah membuat bosan?
            Kemarin sempat ditanya sama teman, “Kenapa kamu mau jadi seorang dosen?” Lalu pikiran saya berputar cepat. Mencari jawaban yang mungkin mengena atas pertanyaan itu. Hanya satu jawaban yang muncul, “Karena ayah saya seorang dosen.” Yah, bisa saja bukan seorang anak bercita-cita menjadi seperti ayahnya.
            Lalu, sebuah kehidupan baru masuk dan memperkenalkan pada sebuah BAB baru dalam hidup. Dunia Sosial. Dunia Anak-Anak. Dunia Mengajar. Saya jatuh cinta pada tiga dunia ini. Sama halnya yang lain, setiap hari ada rindu untuk masing-masing dunia ini. Kadang rindu itu membuat menyenangkan namun kadang juga menyesakkan. Jika saja Seseorang tidak memperkenalkan saya pada ketiga dunia ini, mungkin kehidupan saya bisa menjadi begitu membosankan.
            “Mengajar itu bukan hanya sekedar memberikan pelajaran kepada anak-anak tapi juga mendidik mereka.” Kalimat pertama yang saya temukan ketika mengajar pertama kali. Semua orang bisa mengajar, memberikan ilmu mereka kepada orang lain. Namun hanya beberapa yang bisa mendidik. Dan itu jarang.
            Ketika senyuman itu terlihat diwajah mereka, ketika antusias itu terpancar dari wajah mereka, ketika keceriaan itu memenuhi ruang-ruang dengan suara teriakan mereka ketika kuis dan games. Saya tahu, satu hal yang tidak pernah membosankan adalah “MENGAJAR”. Selalu ada rindu ketika kelas usai, selalu bersemangat ketika weekend tiba. Wajah-wajah penuh senyuman itu selalu terbayang. Dan ketika teman kembali bertanya, “Kenapa kamu ingin menjadi seorang dosen.” Maka jawaban saya sudah siap, “Karena menjadi seorang pengajar itu menyenangkan.”
            Akan ada hal yang baru yang didapat dengan mengajar. Akan selalu ada rindu untuk mengajar. Jadi, ketika kalian bosan mampirlah dikelas kami. Kelas Sayan. Disana mimpi berawal, disana mimpi dibangun oleh anak-anak penerus bangsa. Apa yang saya katakan akan kalian rasakan begitu melihat mereka. Laskar Pemimpi, begitu kami menyebut mereka anak-anak Kelas Sayan.