Berapa
banyak anak didunia ini yang memiliki mimpi?
Berapa
banyak anak di negeri ini yang mengubur mimpinya?
Dan
berapa banyak anak di negeri ini yang tidak lagi memiliki cita-cita?
Dalam kehidupan mereka (kami menyebutnya
sahabat jalanan) setiap hari hanya satu pikiran yang terlintas di benak mereka,
“Hari ini harus bekerja. Kira-kira berapa uang yang bisa saya kumpulkan untuk
membantu ayah dan ibu saya?”. Selalu pekerjaan di benak mereka,
mengumpulkan rupiah untuk terus menunjang kehidupan mereka.
Rizal, satu dari mereka. Rizal anak
berusia 9 tahun, setiap hari dia berjualan jalangkote di sekitar pantai losari
Makassar. Ketika dia di tanya, “Kamu sekolah atau tidak?” dengan sungkan dia menggelengkan
kepalanya. Terus menunduk seolah dia malu adalah ciri khas anak ini. Sembari
menenteng kotak jualannya, dia terus menunduk diantara anak-anak yang lain.
Saat yang lain dengan semangatnya berebutan, Rizal diam di tempatnya menunggu
diberi susu.
Anak berusia 9 tahun menghabiskan
setiap harinya untuk jualan, menjajakan kuenya pada setiap orang yang lain
tanpa berfikir untuk kembali sekolah.
Ayah dan ibunya berada jauh di Takalar. Kami tidak mempersalahkan ayah dan ibu
Rizal, mungkin kondisi mereka disana sangat kurang sehingga mengirim anaknya
untuk mencari nafkah disini.
“Rizal mau belajar gak?” Kembali
sebuah pertanyaan terlontar dari mulut para relawan Save Street Child Makassar.
Dan kembali pula sebuah gelengan kepala diperlihatkan Rizal pertanda dia tidak
ingin atau mungkin tidak bisa.
“Kenapa tidak mau belajar?”
Lagi-lagi Rizal membuat kami penasaran.
“Bos saya marah kak kalau saya tidak jualan.”
Jawaban itu akhirnya terlontar. Di tubuh kecil itu terdapat sedikit luka.
Pelipis sebelah kanannya ada sebuah luka yang entah datang dari mana.
Anak-anak berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya. Berhak
untuk mengecam pendidikan disekolah. Bercanda dengan temannya, tertawa, dan
lari-larian. Anak-anak selalu berhak mendapatkan hak mereka sebagai anak-anak.
Rizal contohnya, dia berhak untuk kembali bersekolah. Jika alasan tidak ada uang,
seharusnya pemerintah kota lebih memperhatikan bukan? Jika alasan dia di larang
oleh Bosnya, seharusnya Dinas Sosial mengambil tindakan bukan?
Susu ultramilk 200ml kami berikan ke Rizal, sebagai
salam perpisahan kami membeli beberapa sisa jualan anak itu. Senyum itu
mengembang diwajah lugunya. Dia tertawa, tersenyum seraya berucap “Terima Kasih,
kak”.
Tidakkah senyum anak-anak mampu menenangkan hati?
Tidakkah senyum anak-anak mampu membuat kita
tersenyum juga?
Tidakkah senyum mereka adalah sebuah harapan untuk
kita?
Harapan untuk kebaikan negeri nantinya, harapan
bahwa tidak ada lagi anak-anak yang berkeliaran di jalan, menengadahkan
tangannya seraya memohon belas kasihan. Berbagi bukan hanya dengan uang, kasih
sayang dan ilmu juga mereka suka. Mari terus berbagi untuk mereka. Untuk terus
menjaga senyum mereka, Because when the children smile
then the new world begins. The world which we call happiness.
then the new world begins. The world which we call happiness.
0 comments:
Post a Comment